posting ini gua tulis berdasarkan ilham dari angkasa.
kilas balik sebelumnya, dulu masyarakat jakarta belum mengenal yang namanya cafe/resto yg ngejual kopi. bagi sekalagan orang yg suka ngopi setiap harinya, mereka bisa minum kopi diwarung warung yg kalau dilihat di jaman skrng "Jadoel" artinya ngga banget .... tp permasalahannya bukan di tempatnya, bagi sekalangan pencinta kopi dulu dijakarta mereka ngga perduli tempat, yang terpenting mereka bisa minum kopi sambil ngobrol-ngobrol sama teman mereka.
oke, kita tinggalin masa lalu. pindah kemasa skrng ini. pesat, cepat, padat, sibuk, "traffic jam Jakarta" mungkin ungkapan itu udah tepat disandarkan ke-Jakarta itu sendiri, yup setuju, setiap hari orang lalu lalang, kendaraan bermotor coba ikut peran dijalan raya Jakarta. mereka yang hidup dijakarta sekarang bukan robot, pasti mereka juga punya kata "cape". nah, karena pembangunan di kota jakarta sangat cepat, bermunculan cafe/resto yang berasaskan "Kedai Kopi". starbucks, coffebean, cuman dua si brand coffe yang gua tau (maaf orang desa). gua pernah datengin sebuah cafe "kedai kopi" didaerah Bintaro Jakarta selatan itu juga berdua sama temen gua, duduk , saling liat liatan "binggung karena pertama kali". jujur ini pertama kali gua ke kesana, memang si niatnya kita mau ngopi, tp cuman berbeda tempat dan viewnya aja . gua akuin cafenya asik, viewnya keren, fasilitas oke dan yang terpenting gua bisa ngbiks.
gua mesen 1 cangkir kopi hitam yg atasnya ada gambar "daun" (itu request gua sendiri). kalau ngomongin rasa menurut gua nih hmmm masih mantepan kopi hitam buatan bokap gua hahaha... cuman viewnya yang mantep , karena free biks buks boks. harga, kalau ngomongin kategori itu hmm ampun deh , MAHAL !!. bisa beli serenteng kopi sachet tuh diwarung hahaha...
oke tinggalin opini gua,
mungkin buat kaum expartriad , nongkrong di Kedai kopi yang menjual kopi dengan harga selangit bukan karena rasa kopinya itu sendiri melainkan mereka cuman membayar tempat, tempat yang dia duduki .
mungkin pandangan untuk kaum expatriad dengan nominal berapa pun mereka akan membayarnya, bukannya karena pencinta kopi atau pengila kopi , cuman 1 kutipan gua "mereka cuman mau gaya gayaan aja", mereka ngga mengerti kenikmatinya minum kopi sebenarnya. kalau minum kopi ngga nge biks buks boks mana nendang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar